Seminar Sehari
23 Maret 2019

Sabtu, 23 Maret 2019
Tempat: Hotel Aryaduta Suites Semanggi, Ruang Edelweiss

Jl. Garnisun, No. 8, Setiabudi, Jaksel

Dunia Pendidikan di Indonesia saat ini sangat dinamis. Jumlah sekolah yang semakin bertambah, tuntutan orangtua yang semakin tinggi dan regulasi pemerintah menjadi sebagian dari tantangan yang dihadapi sekolah saat ini. Hal ini harus dilalui oleh sekolah sebagai bentuk peran serta dan ambil bagian dalam arus deras perkembangan pendidikan. Karena itu, sekolah dituntut untuk siap dan harus tangguh menghadapi gerak cepat ini. Ditambah lagi dengan era persaingan bebas pendidikan.

Majalah CIA (Cahaya Isnpirasi Anak) sebagai salah satu majalah literasi menjadi penyelenggara acara ini yang didukung oleh Hotel Aryaduta, Semanggi. Sebagai salah satu media anak yang fokus pada gerakan literasi sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah saat ini, Majalah CIA sudah berada dalam kelas-kelas di 300 (tiga ratus lebih SD) di seluruh Indonesia. Kelas menjadi ruangan yang ideal untuk dilakukan kegiatan literasi baca (selain perpustakaan). Karena itu, majalah CIA bekerja sama dengan sekolah untuk hadir di hadapan anak-anak di kelas. Juga agar anak-anak terbiasa dengan dunia tekstual melalui kertas, bukan layar hp atau Ipod. Majalah CIA juga telah mendampingi lebih dari 6000 guru SD seluruh Indonesia dengan program Bagaimana Memanfaatkan 15 menit membaca setiap hari. Majalah CIA melalui tim DIKLAT memberikan pendampingan secara khusus terkait pola praktis dan sederhana dari membaca ke menggali nilai-nilai karakter untuk bapak dan ibu guru.

Mengambil tema, WAKTUNYA SCHOOL BRANDING, seminar sehari ini menghadirkan 3 (tiga) pembicara:

  • Pembicara 1: Arto SoebiantoroBrand Specialist, CEO Gambaranbrand. Pembicara 1 ini menekankan pentingnya sekolah "Membranding" sekolah saat ini. Kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan di sekolah menjadi aktivis utama "membranding" sekolahnya. Kepala Sekolah sebagai penentu kebijakan sekolah perlu mengibarkan bendera sekolahnya keluar agar dikenal, diketahui dan diingat banyak orang, terutama para orangtua yang hendak menyekolahkan anak-anaknya. Nama sekolah menjadi salah satu brand yang mudah dikibarkan oleh para kepala sekolah. Tentu bukan sekedar nama yang dibranding, namun bagian-bagian lain yang mendukung nama itu. Seperti visi misi, prestasi (atau porofolio) sekolah, guru dan siswanya. Bila brand ini dikenal luas, para orangtua akan dengan mudah datang dan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.
  • Pembicara 2: Achmad Ferzal – Contextual Education Specialist, CEO True Creative Aid. Pembicara 2 ini menekankan perlunya ketangguhan sekolah untuk menghadapi arus cepat dan persaingan bebas dunia pendidikan saat ini. Tangguh itu bukan berarti berhasil mengalahkan pesaing atau berdiri sendirian di atas puing-puing sesama. Tangguh berarti berjuang sungguh-sungguh dalam menemukan keunikan atau kekhasan sekolah yang lahir dari aneka potensi yang ada. Tangguh berarti berani berjuang atau berinovasi menggunakan apa yang ada tidak mengada-ada apalagi menunggu semua tersedia. Oleh karenanya, aktivis brand sekolah haruslah berani. Berani yang lawannya bukan takut, namun berani yang lawan katanya nyaman, seperti berani membersamai masalah, berani ber-inovasi dan berani berkolaborasi. Tangguh dalam keunikan dalam menyalakan jiwa-jiwa sejati anak-anak bangsa. Menghebatkan anak2 dengan Indonesia Raya kita.
  • Pembicara 3: Stefanie Augustin – Pemimpin Majalah CIA, CEO PT. Cahaya Inspira Adiwangsa. Pembicara 3 lebih dalam mengangkat tantangan sekolah saat ini sehingga perlu kerja keras dan bergandengan tangan antara sekolah, orangtua, pemerintah dan masyarakat. Tantangan sekolah saat ini bisa datang dari DI DALAM dan DARI LUAR. Dari Dalam, misalnya, mutu SDM (Guru). Kualitas pendidikan guru muda dan niat menjadi guru saat ini menjadi persoalan. Menjadi guru lebih dilihat sebagai profesi, bukan sebagai panggilan atau Karena profesi, maka guru harus memiliki lisensi atau ijasah yang sesuai. Profesi guru menjadi begitu seksi. Masyarakat beramai-ramai ingin menjadi guru. Lalu peminat masuk LPTK meningkat tajam. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, fenomena ini lalu ditangkap oleh penyelenggara pendidikan guru. Usulan pendirian LPTK dan prodi kependidikan melonjak tajam. Bahkan ada joke sinis, perguruan tinggi yang dalam keadaan di ujung maut pun, akan bugar kembali ketika izin pembukaan prodi kependidikan disetujui. Bukan saja ancaman over supplyyang menggelisahkan, tetapi logika mengatakan, dengan jumlah sebesar itu, mustahil mengontrol mutu proses penyelenggaraan pendidikan dan lulusan LPTK Karena itu, tidak sedikit guru kurang siap berkarya, penyiapan materi jadi sering kurang matang, hanya mengikuti teks book. Lalu, kemampuan meng-handle siswa terbatas dan komunikasi dengan orang tua sering mengalami kendala.

Selain mutu, tuntutan Yayasan menjadi semakin sulit direalisasikan. Program dan target Yayasan untuk sekolah yang baik, sering kali sulit untuk dapat direalisasikan karena situasi masalah-masalah di atas. Sekolah kadang merasa tidak relevan antara tuntutan Yayasan dengan kondisi real. Jadi kadang dijalankan hanya untuk memenuhi target normatif, sementara target kualititatif yang seharusnya dicapai dari program yayasan tidak menjadi poin utama. Ditambah lagi dengan sistem administrasi yang seringkali belum terintegrasi, sehingga sekolah masih harus memberikan penanganan khusus. Tidak sedikit waktu disita untuk membereskan urusan administrasi.

Tantangan lain Dari Dalam adalah terkait keuangan. Sekolah juga dituntut untuk dapat mengelola keuangan dengan baik dan tepat oleh yayasan. Anggaran yang serba terbatas, pola pengajuan yang rumit, sekolah jadi perlu ekstra berjuang saat ingin menjalankan suatu program yang oleh sekolah dinilai bisa membantu memperbaiki kualitas sekolah. Sisi lain, pihak sekolah terus berjuang untuk memperpendek Generation gap. Guru dari Gen X dan anak-anak dari Gen Milenials dengan behavior a, b, c menuntut mereka untuk segera menyesuaikan diri. Kerap kali hal ini, para guru tidak siap atau kurang tanggap. Akibatnya, komunikasi tidak lancer dan tidak nyambung.

  • Dari Luar, misalnya, Dinas. Program baru dan terkesan mentah tanpa guidance yang jelas, tapi sekolah dituntut untuk siap dalam rentang waktu tertentu sering menyeret waktu efektif sekolah. Bila tidak didituruti, sekolah dinilai bandel oleh dinas. Lalu, pertumbuhan jumlah sekolah yang semakin banyak. Sekolah-sekolah baru bermunculan dengan menawarkan fasilitas lebih baik, tim pengajar yang lebih berkualitas, kurikulum yang lebih advance, pola mengajar lebih menarik. Belu lagi pola marketing agresif dengan periode penerimaan siswa baru yang tidak serempak, berusaha saling mendahului.

Tantangan Dari Luar yang tidak kalah hebat adalah desakan para orang tua milenial yang berpendidikan tinggi, tuntutan tinggi (berkembangnya dunia sosmed dll), over protektif, merasa punya kapasitas untuk memberi "masukkan ke sekolah", merasa sangat sensitive dengan sekolah. Namun, kerap terjadi, mereka masuk ke dalam hal-hal yang menjadi ranah privat sekolah. Sekolah akhirnya disibukkan dengan menangani hal-hal privat ini.

Seminar ini diselenggarakan atas masukan beberapa sekolah terkait pentingnya membangun brand sekolah saat ini. Sebanyak 50 kepala sekolah (swasta dan negeri) yang hadir saat ini menjadi motor gerakan literasi yang giatkan oleh majalah CIA saat ini. Dengan tekad menjadi cahaya inspirasi anak-anak Indonesia, mereka datang dari sekolah-sekolah (swasta dan negeri) yang ada di JABODETABEK.

Jakarta, 23 Maret 2019

Majalah CIA (Cahaya Inspirasi Anak)

#nyalakanCIA #geraksamaCIA

THE MORE YOU READ, THE MORE THINGS YOU'LL KNOW.
THE MORE YOU LEARN, THE MORE PLACES YOU'LL GO.
- DR. SEUSS -
BERANDA BERITA MAJALAH PROGRAM PORTFOLIO PARTNER HUBUNGI KAMI ┬ęCOPYRIGHT 2019. PT CAHAYA INSPIRA ADIWANGSA. ALL RIGHTS RESERVED